Home » , » Pentingnya Waktu dalam Kehidupan Setiap Muslim

Pentingnya Waktu dalam Kehidupan Setiap Muslim


Oleh: Syaikh Ali Nayef as-Syahud
Bismillah.
الحمد لله الذي بيده مقاليد الأمور، والصلاة والسلام على البشير النذير، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
Sesungguhnya modal setiap muslim dalam kehidupan dunia ini adalah waktu yang menjadi media kehidupan. Dan waktu lebih berharga dan lebih mahal dari harta, yang kalaulah sekiranya seorang yang sedang menghadapi kematian dia letakkan semua hartanya untuk memperpanjang usianya satu hari saja; apakah dia akan mendapatkan penundaan dan perpanjangan waktu tersebut?!

Dan bahkan oleh sebab begitu pentingnya waktu maka Alloh telah bersumpah dengan atas nama waktu di dalam banyak firman-firman-Nya dari al-Quran yang mulia, diantaranya ialah firman-Nya:

((وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)) [سورة العصر: 1-3]
"Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan yang saling nasihat menasihati tentang kebenaran dan yang saling nasihat menasihati tentang kesabaran". (Qs. al-Ashr: 1-3)

Maka Alloh azza wa jalla bersumpah dengan nama masa, yaitu waktu untuk mendapatkan keuntungan dan amalan sholeh bagi kaum mu'minin, dan menjadi waktu kesengsaraan bagi orang-orang yang mengingkari, karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran dan perkara yang menakjubkan bagi mereka-mereka yang mau melihatnya.
Dan Alloh berfirman dalam menjelaskan kenikmatan yang agung ini yang mana itu merupakan dasar dari segala kenikmatan:

{وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ }  [سورة النحل: 12]
"Dan Alloh tundukkan bagi kalian malam dan siang, matahari dan rembulan serta bintang-bintang, mereka tunduk di bawah perintah-Nya. Yang demikian itu ada tanda-tanda kebesaran Alloh bagi orang-orang yang berfikir". (Qs. an-Nahl: 12)
Dan juga berfirman:
{وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا} (62) سورة الفرقان.
"Dan Dia-lah Alloh yang telah menjadikan siang dan malam (datang) silih berganti bagi siapa saja yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur". (Qs. al-Furqon: 62)

Maka disebutkan dari sahabat, Abu Barzah al-Aslamiy rodhiallohu 'anhu beliau berkata:
و عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ » أخرجه الترمذي برقم(2602 ) وهو صحيح.
Telah bersabda rosululloh shollollohu 'alaihi wa sallam, "Kedua kaki setiap hamba pada hari kiamat tidak akan beranjak hingga dia ditanya tentang usianya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah dia perbuat, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa dia lapuk-kan". (HR. at-Tirmidzi no. [2602] dan hadits tersebut shahih)

Dan disebutkan pula sari sahabat Ibnu Abbas rodhiallohu 'anhuma berkata:

و عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ » أخرجه البخاري برقم(6412) .
Telah bersabda rosululloh shollollohu 'alaihi wa sallam, "Ada 2 kenikmatan yang kebanyakan orang menyia-siakan, yaitu kesehatan dan waktu luang". (HR. al-Bukhori no. [6412])

Dan bahkan sahabat Ibnu Abbas juga mengatakan:


وعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ :" اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ "المستدرك برقم(7846) وهو صحيح
Telah bersabda rosululloh shollollohu 'alaihi wa sallam kepada seseorang yang beliau nasehatkan: "Peliharalah 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara lainnya: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, waktu lapangmu sebelum datang kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu". (HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrok no. [7846] dan haditsnya shahih)

Sesungguhnya Alloh azza wa jalla menciptakan kita untuk sebuah urusan yang agung dengan menunjukkan jawaban yang tepat di dalam firman-Nya yang mulia, maka Alloh ta'ala berfirman:


{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)]}[المؤمنون/115، 116]
"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kalian untuk suatu yang sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Alloh, Penguasa yang sebenarnya, yang tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia penguasa Arsy yang mulia". (Qs. al-Mu'minun: 115-116)

Dan Alloh ta'ala juga berfirman:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)} [الذاريات/56-59].
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (hanya) kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dari mereka sebuah rezeki dan Aku juga tidak menginginkan mereka memberi makan Aku. Karena sesungguhnya Alloh Dialah yang maha pemberi rezeki lagi memiliki kekuatan yang amat kokoh". (Qs. ad-Dzariyat: 56-59)

Berkata Imam an-Nawawi rohimahulloh di dalam mukaddimah kitab "Riyadhus Sholihin"nya:
"Dan ini merupakan kejelasan bahwa mereka tercipta untuk beribadah, maka yang wajib bagi mereka adalah memperhatikan terhadap tujuan dari penciptaan mereka dan berpaling dari gemerlapnya dunia dengan jalan zuhud terhadapnya, karena dunia hanyalah tempat persinggahan dan bukan tempat yang abadi, tempat transit dan bukan tempat bermukim, jalan yang terputus, bukan tempat tujuan, memilikinya akan sirna dan barunya pun akan usang, banyaknya adalah sedikit, yang terbagusnya adalah hina, yang hidup di dalamnya akan mati, dan yang baiknya pun akan lenyap, dan oleh karena itu bahwa orang yang paling terjaga dari dunia adalah ahli ibadahnya, dan manusia yang paling berakalnya adalah orang-orang yang zuhud, dan maha benar apa yang Alloh firmankan:
{ وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً } [الكهف:45]
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. al-Kahfi: 45)


Maka sudah sepantasnya bagi yang berakal untuk beramal untuk akhiratnya, dan mengusahakannya, dan mengambil bahagian dari dunia hanya sebatas apa yang dapat menghantarkan dirinya kepada akhirat. Alloh ta'ala berfirman:
{ وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ  ...} (القصص:77)
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. al-Qoshosh: 77)
Sungguh indah apa yang dikatakan seorang penyair:
إن لله عباداً فطناً ...... طلقوا لدنيا وخافوا الفتنا
نظروا فيها فلما علموا....... أنها ليست لحي وطناً
جعلوها لجة واتخذوا.......... ... صالح الأعمال فيها سفنا
Sungguh hanya milik Alloh para hamba yang cerdik....mereka tinggalkan dunia karena takut dari fitnahnya dunia.
Mereka memandang ke dasarnya, dan tatkala mereka tahu....bahwa dunia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup.
Mereka jadikan dunia laksana lautan dan mereka jadikan....amalan sholeh di dunia sebagai bahteranya.

Dan usia setiap manusia merupakan musim cocok tanam di kehidupan dunia ini, sedangkan musim panennya ialah di negeri akhirat sana. Maka tidaklah sepantasnya setiap muslim menyia-siakan waktunya dan menghabiskan modalnya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

Dan barangsiapa yang tidak mengerti kadar nilai waktunya di hari ini, niscaya nanti dia akan mengetahui kadar nilai, dan berharganya beramal di dunia, akan tetapi hal itu setelah semuanya sirna, oleh karenanya al-Quran menyebutkan adanya 2 posisi bagi setiap insan yang dia akan menyesal manakala dia menyia-siakan waktunya di hari tidak lagi bermanfaat penyesalan:
  1. Di waktu datangnya kematian, di mana manusia akan meninggalkan dunia dan akan menghadap akhirat, dan dia akan berangan-angan; jika lah dia diberi kesempatan satu kali saja, dan ditunda ajalnya untuk masa sekejap niscaya dia akan memperbaiki apa yang telah dia rusak dan dia akan berusaha meraih apa yang terluputkan darinya. Alloh ta'ala berfirman:

{وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ} [سورة إبراهيم: 44]
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?" (Qs. Ibrohim: 44)
Dan Alloh berfirman:
وقال تعالى : { حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100) }[المؤمنون/99، 100]
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan". (Qs. al-Mu'minun: 99-100)
   
        2.   Di akhirat, dikala semua yang dikerjakan manusia akan dibalas dan semua yang diusahakan manusia akan di ganjar, dan akan dimasukkan ke dalam surga penghuni surga dan penghuni neraka akan di masukkan ke dalam neraka, maka di sanalah penghuni neraka akan berangan-angan sekiranya mereka dikembalikan kepada kehidupan di kali yang kedua, niscaya mereka akan memulainya dengan amalan sholeh. Alloh ta'ala berfirman:
{وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ (12) وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (13) فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (14)}[السجدة/12-14]
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shaleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari padaku; "Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan". (Qs. as-Sajadah: 12-14)

Waktu laksana harta, keduanya harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan harus berhemat dalam membelanjakannya, dan harus diatur penggunaannya, walaupun harta masih memungkinkan untuk dikumpulkan, disimpan dan bahkan dikembangkan, akan tetapi waktu sebaliknya.

Maka setiap detik dan setiap kedipan yang disirna maka tidak akan mungkin kembali kepadamu selamanya, walaupun kamu menebusnya dengan seluruh hartamu.

Dan apabila waktu telah ditentukan dalam tempo tertentu dan usia terbatas yang tidaklah mungkin untuk dimajukan maupun dimundurkan, dan nilainya ialah terletak pada bagaimana sebaik-baiknya memanfaatkan waktu, maka wajib bagi setiap insan untuk menjaga waktunya dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya dan tidak menyia-siakannya sedikit maupun banyak.

Dan agar setiap insan dapat menjaga waktunya maka dia haruslah tahu ke mana dia hendak mendepositokannya? Dan bagaimana mendepositokannya? Dan sebaik-baik deposit adalah untuk ketaatan kepada Alloh azza wa jalla, maka setiap waktu yang telah anda depositkan di jalan ketaatan niscaya kamu tidak akan pernah menyesal selama-lamanya.

Maka diberitakan dari Saif al-Yamani beliau berkata:
"Sesungguhnya termasuk dari pertanda Alloh berpaling kepada seorang hamba ialah tatkala dia telah menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya".

Dan berkata Abu Hazim:
"Sesungguhnya perbekalan akhirat akan habis, maka perbanyaklah darinya di pundi-pundi perbendaharaannya, karena jika sekiranya datang hari pasarnya maka kamu tidak akan dapat sampai kepadanya, tidak sedikitnya dan tidak banyaknya". (al-Hilyah)

Maka kapan pun manusia terhalangi dari amalnya maka tidaklah tersisa baginya melainkan kerugian dan penyesalan serta berangan-angan untuk dapat kembali kepada sebuah keadaan di mana dia dapat beramal namun sudah tidak lagi bermanfaat. Maka sudah sepantasnya bagi setiap mu'min tatkala melalui siang dan malamnya untuk menjadikannya sebagai pelajaran bagi dirinya, siang dan malam datang saling bergantian, yang jauh akan mendekat, dan keduanya akan menghabiskan usia, keduanya akan menjadikan anak-anak menjadi beruban, dan keduanya pun akan mematikan yang telah tua.

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair:
إذا ما خَلَوْتَ الدَّهْرَ يوماً فلا تَقُلْ ... خَلَوْتُ، ولكنْ قُلْ عليَّ رَقِيبُ
ولا تَحْسَبَنَّ الله يَغْفُلُ ساعَةً ........ ولا أَنَّ ما يَخْفَى عليه يَغِيبُ
ألم تر أنَّ اليوم أسرع ذاهبٍ ......... وأنَّ غداً للناظرين قريبُ؟
Apabila kamu telah menghabiskan satu hari dari masa ini maka jangan katakan....telah aku habiskan, akan tetapi telah dekat masaku.
Dan jangan kamu kira Alloh lalai sekejap pun....dan jangan pula akan ada yang luput darinya.
Tidakkah kamu lihat bahwa hari ini begitu cepat berlalu....dan hari esok bagi yang menantikannya begitu dekat.

Dan dari al-Hasan bin Ali seorang ahli ibadah beliau mengatakan: Telah berkata Fudhoil bin 'Iyadh kepada seseorang: Berapa usia anda? Orang itu menjawab: 60 tahun, Fudhoil berkata: Anda telah berusia 60 tahun, berarti anda sebentar lagi akan tiba kepada Robb anda, maka orang tersebut berkata:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami hanya milik Alloh dan kami hanya akan kembali kepada-Nya, Berkata Fudhoil: Tahukah apa yang telah anda ucapkan? Orang itu menjawab: Aku hanya mengatakan: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Fudhoil pun berkata: Tahukah anda tafsirnya? Orang itu berkata: Wahai Abu Ali, tafsirkanlah kepada kami. Fudhoil berkata: Ucapan anda: Sesungguhnya kami hanyalah milik Alloh artinya anda telah berkata bahwa aku adalah seorang hamba milik Alloh, dan aku akan kembali kepada Alloh. Maka barangsiapa yang tahu bahwa dirinya adalah hamba Alloh dan bahwa dirinya akan kembali kepada-Nya, maka hendaklah dia tahu bahwa dirinya akan dihadapkan, dan barangsiapa yang tahu bahwa dirinya akan dihadapkan maka dia akan diminta pertanggung-jawabannya, dan barangsiapa yang tahu bahwa dirinya akan diminta pertanggung-jawabannya maka hendaklah dia mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-Nya, maka orang tersebut bertanya: maka apa triknya? Beliau menjawab: mudah, dan orang itu bertanya kembali: apa itu? Beliau menjawab: Anda harus pandai-pandai memanfaatkan sisa waktu yang ada niscaya anda akan diampuni atas apa yang telah lalu dan yang akan datang, karena jika anda jelek dalam mempergunakannya niscaya anda akan disiksa atas apa yang telah lalu dan yang akan datang". (al-Hilyah)

Dan dari al-Hasan al-Bashri beliau berkata kepada orang-orang yang duduk di sekitarnya: "Wahai segenap orang tua, apa yang dinanti dari cocok tanam apa bila telah datang masanya?" Mereka menjawab: "panen", beliau berkata: "Wahai segenap para pemuda, sesungguhnya tanaman dapat terkena penyakit sebelum datang masanya". (Az-Zuhud karya al-Baihaqi)
Sesungguhnya waktu bagi setiap insan adalah usianya pada hakikatnya, dan itulah tempat kehidupannya yang abadi di dalam kenikmatan yang langgeng, dan tempat kehidupannya yang sempit di dalam adzab yang amat pedih, dan dia akan berjalan laksana berjalannya awan, maka barangsiapa yang waktunya adalah untuk Alloh dan karena Alloh maka itulah kehidupannya dan usianya, adapun selain itu maka tidaklah dihitung sebagai kehidupannya dan jika tidak demikian maka dia menjalani kehidupan tak ubahnya kehidupan hewan ternak. Dan apabila terputus waktunya dalam kelalaian, kealpaan dan angan-angan yang batil, dan sebaik-baik usahanya ialah tidur dan istirahatnya, maka kematiannya ini lebih baik baginya dari kehidupannya.

Wallohu a'lam.

0 komentar:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified